Minggu, 28 Oktober 2018

Rahasia Kemenangan Pilpres





Dunia politik terutama menyangkut pemilihan presiden adalah ibarat koloseum di mana kita bisa melihat segala macam gladiator bertarung, membantai lawan-lawannya dengan menggunakan segala cara: “Hidup atau mati, dibunuh atau membunuh”.

Dunia politik khususnya jika sudah menyangkut pemilihan presiden sesungguhnya adalah medan perang zonder alat tempur, meski pun realitas dunia politik itu sendiri tidak terlepas dari penggunaan kekerasan, termasuk pembunuhan - hal mana yang dilarang secara hukum (sehingga jika terpaksa, dilakukan secara diam-diam).

Anda boleh tidak sepakat, menentang kekerasan dalam politik yang pada hakikatnya manusiawi dalam arti sesuai kodrat manusia yang ingin meraih kekuasaan. Sebelum demokrasi dikenal dan diterapkan sebagai mekanisme yang lebih beradab, perebutan kekuasaan selalu dilakukan melalui cara perang. Pemenang menjadi penguasa atas pecundang.

Dalam sistem demokrasi, kandidat melawan dan menghancurkan musuh mereka dengan panah argumen. Beberapa orang menggunakan tombak suap atau todongan senjata rahasia kotor pihak lawan.

Ada yang memilih pedang tumpul ketimbang melakukan hal yang Benar. Kadang-kadang seorang politisi dengan senang hati mengabaikan semua persenjataan konvensional dan memenangkan pertempuran atau perang dengan tipu daya licik seperti manipulasi hasil perolehan suara. Singkatnya apapun yang dilakukan kandidat dianggap sah dan legal sepanjang tidak ketahuan.

Di Indonesia, senjata paling ampuh dalam memenangkan pilpres dan pemilu adalah KPK. Sejak 2009 KPK ditunggangi kepentingan pihak tertentu untuk mendapatkan dukungan  partai politik sebagai pengusung tokoh tertentu sebagai capres, sebagai alat menjatuhkan pihak lawan, mengkriminalisasi lawan politik, menyandera politisi partai, anggota DPR, timses capres, hakim MA sampai hakim konstitusi.

Kemenangan Jokowi pada pilpres 2014 di samping menunggangi KPK, para tokoh di balik pencapresan Jokowi, juga menggunakan KPK untuk menghancurkan citra Islam, citra politisi Islam dan partai politik Islam sejak tahun 2010 sampai pelaksanaan pilpres 2014.

Untuk mendapatkan dukungan partai pengusung, para elit yang menjadi otak kemenangan Jokowi, memanfaatkan KPK untuk memaksa partai politik mengusung pencapresan Jokowi di pilpres 2019. Partai, KPU, MK, DPR, MA, Kepala Daerah, tokoh-tokoh tertentu sampai cukong pun menjadi sandera kasus korupsi oleh KPK untuk kepentingan memenangkan Jokowi.

Di Amerika, Kanada, Eropa Barat, Asia Timur dan Australia praktek penyanderaan pihak tertentu oleh institusi penegak hukum untuk memenangkan sebuah pemilu atau pilpres tidak pernah terjadi.

Kasus intervensi Rusia, sabotase Wikileas atau campur tangan China untuk mempengaruhi pilpres di Amerika Serikat hanya terbatas pada penyebaran informasi dan donasi ilegal kepada timses salah satu capres AS.


Membalikan Keadaan
Di atas kertas,  pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1980 tampak seperti pertarungan David versus Goliath. Petahana Jimmy Carter, politisi kawakan Partai Demokrat menghadapi aktor kelas dua yang memasuki masa pensiun bernama Ronald Reagan. Rasanya, semua babak dan tahapan pilpres AS 1980 akan didominasi Carter dengan mudah, sekaligus menangkis serang kritik media dan publik atas penyanderaan ratusan warga di kedutaan besar AS di Teheran oleh milisi pro penguasa Iran.

Namun kampanye pilpres 1980 terbukti sengit. Secara mengejutkan, Reagan tampil menarik, taktis dan memiliki jawaban atas semua pertanyaan lawan. Reagan menjelma bak politisi kawakan yang memenuhi harapan publik. Kepada publik Amerika, Reagan menjanjikan pemulihan harga diri dan kebanggaan Amerika. Dia bersumpah melindungi setiap nyawa warga Amerika dari tindakan kekerasan dan ancaman pembunuhan dari pihak asing: “Sudah saatnya penyelesaian masalah Amerika mengadopsi cara-cara seperti tayangan film Hollywood”, janji Reagan serius namun dianggap sangat menghibur rakyat.

Pada akhir kampanye, Carter dan Reagan nyaris sama kuat. Tetapi ada satu peristiwa besar yang tersisa: Debat Final antara Capres.

Acara ini dikemas glamor, disiarkan langsung ke seluruh penjuru Amerika, persis seperti :”Gala Show Muhammad Ali”. Semua mata dan perhatian publik Amerika terpaku pada acara Debat Final Capres.

Carter mempersiapkan catatan debat secara sempurna: Dia telah menyuruh stafnya habis-habisan dengan mengerahkan seluruh sumber daya untuk membuat buku saku pintar- ringkas, sebagai ‘kitab sucinya’ pada saat debat berlangsung.

Di dalam buku saku pintar ringkas itu mencakup seluruh pokok materi, strategi debat, lengkap dengan gaya bicara dan tekanan kata yang harus dihafalnya. Semua pihak sepakat, sebelum debat dimulai, Carter jauh unggul di atas angin dalam persepsi publik.

Ketika debat capres dimulai, Reagan terkesan sangat mudah mendapat jawaban sempurna atas semua pertanyaan. Seolah semua familiar bagi Reagan: Dari isu kebijakan luar negeri sampai masalah aborsi. Bahkan Reagan lebih jauh lagi menyampaikan semua jawaban, tanggapan, kritik dan serangannya kepada Carter secara sangat metodis, terstruktur, detail, fokus dan tepat sasaran. Carter tampak bagai seorang murid di depan guru.

Semakin lama debat berlangsung, Reagan terlihat semakin bertenaga dan semangat. Sebaliknya, Carter pucat pasi, frustasi, mata kemerahan seperti menahan tangis kesedihan.

Apa pun yang ditanyakan Carter, Reagan tahu jawabnya. Bahkan, Reagan juga tahu kata apa atau ucapan yang akan keluar dari mulut Carter. Malam itu, Carter seolah-olah melawan dirinya sendiri di depan cermin: Reagan tahu persis apa yang akan dikatakan Carter, kata demi kata !

Hasil debat malam itu mengubah sejarah Amerika. Aktor kelas dua Hollywood yang memasuki masa pensiun karir layar lebar kemudian menjadi orang nomor satu Amerika. Tidak itu saja, Ronald Reagan tercatat sebagai presiden Amerika terpopuler dan mendapat dukungan publik tertinggi sepanjang masa pemerintahannya selama dua periode.


Rahasia Reagan
Pada hari-hari sebelum debat capres,  timses Carter kehilangan salinan kertas catatan yang akan dituangkan ke dalam buku saku pintar ringkas Carter. Tanpa curiga sedikit pun, beranggapan kertas-kertas itu salah letak atau terbang disapu angin, semua bekerja seperti biasa.

Salinan kertas-keras yang hilang itulah sumber malapetaka dan menjadi mimpi buruk Carter selama bertahun-tahun. Tangkisan tepat, pukulan mematikan dari Reagen kapada Carter selama perdebatan capres berlangsung hasil dari salinan kertas yang hilang.

Katakan saja, salah satu staf Reagan telah "menemukan" buku strategi Carter yang hilang,  menghadiahkannya kepada Reagen.

Buku saku itu  menawarkan pintu masuk ke kepala Carter. Reagan dan timsesnya langsung menyesuaikan strategi baru: Mempelajari materi, program, visi dan misi Carter. Mengupas dan menganalisa seluruh kelemahan dan hambatannya, melatih diri dalam menjawab pertanyaan yang akan diajukan Carter, merumuskan bagaimana memberi pukulan mematikan ke rahang dan kepala Carter, sehingga memberi kemenangan KO untuk Reagan.

Sebagai aktor senior, Reagan punya bakat cepat menguasai skenario, peran dan adegan. Improvisasi yang dilakukan membuat pesonanya yang memikat semakin melenakan publik.

Seminggu kemudian: Carter KO, Reagan dinyatakan sebagai pemenang.

Meskipun fakta di balik kemenangan gemilang Reagan pada debat capres akhirnya terungkap,  kebenaran "Debategate" itu tidak pernah menimbulkan kerugian atau dampak signifikan bagi Reagan.

Sementara itu, Jimmy Carter selama bertahun-tahun masih menjadikan klaim bahwa buku yang hilang itu benar-benar telah mengorbankan dirinya dalam pilpres. Respon publik Amerika sangat logis dan sederhana: “Lain kali, jika punya buku atau kertas catatan, harap simpan di lemari besi terkunci, jangan di perpustakaan umum !”


Modus Reagan Ditiru Jokowi
Sehari menjelang debat capres hari pertama pada pilpres 2014, publik Indonesia dikagetkan terungkapnya pertemuan rahasia antara komisioner KPU Hadar Nafis Gumay dengan Ketua Komisi III DPR dari Fraksi PDIP Trimedya Panjaitan. Pertemuan di Satay House Senayan Jakarta yang juga dihadari Komjen Pol Budi Gunawan (sekarang Kepala BIN) ditenggarai sebagai usaha PDIP / Kubu Jokowi untuk mendapatkan bocoran materi dan pertanyaan yang digunakan dalam debat capres.




Maksud hati kubu Jokowi agar publik dapat dikecoh oleh penampilan Jokowi di debat capres dengan menutupi fakta sebenarnya bahwa wawasan, pengetahuan dan penguasaan capres Jokowi pada masalah kerakyatan, bangsa dan negara sangat minim.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Garong Nusa: Politik Dua Kaki SBY di Pilpres 2019

Garong Nusa: Politik Dua Kaki SBY di Pilpres 2019 : Pertarungan pilpres 2019 adalah pertarungan ulang antara Jokowi versus Prabowo. Tampilny...